Sosok

Dipaksa Jadi Pengajar, Hingga Diancam Putus Hubungan Darah

Foto : Mayang I.R Biru

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


SKETSA – Apa yang memotivasi dirimu untuk menjadi seorang pengajar? Gaji? Pangkat? “Jika ingin kaya jangan jadi pengajar.” Demikian ujar salah satu dosen Unmul saat dijumpai Sketsa, Selasa (29/11). Mengapa?

Adalah Dedy Rahman Nur, dosen Bahasa Inggris itu tak pernah menyangka dirinya akan mengikuti jejak sang ayah. Sudah memiliki empat lagu yang sudah masuk dapur rekaman bersama bandnya, Dedy justru berakhir menjadi dosen hingga kini. Bahkan dia terdaftar sebagai dosen di dua kampus, yakni Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Bahasa Inggris Unmul dan Universitas Widyagama Samarinda. Ditemui di sela-sela kesibukannya mengajar di Kampus Biru (sebutan bagi Universitas Widyagama Samarinda), dia berkisah perjalanannya menjadi seorang dosen.

Petang yang terik dan sebatang rokok yang dihisapnya kala itu, menjadi saksi mula kisah Dedy yang mengaku awalnya tidak ingin kuliah. Sejak Sekolah Menengah Atas (SMA), dia juga tidak menyukai Bahasa Inggris. Dedy justru lebih suka bermusik, dan ingin menjadi musisi. Maka, saat itu ia ingin bergabung di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Namun sayang, sang ayah tak memberi restu. Ayahnya, kata Dedy menentang keras keputusannya ingin berkarir di belantika musik. Bahkan mengancam untuk memutus hubungan darah di antara mereka.

“Saat itu ayah saya bilang, silakan kamu ke IKJ. Tapi, kita putus hubungan darah,” ucapnya.

Sontak, hal itu memberi pukulan keras bagi pria kelahiran 28 Oktober 1984 itu. Pun, membuatnya mengubah pikiran untuk ihwal berkuliah. Dedy mengaku tak ingin jadi pengajar atau guru. Katanya, guru itu tidak kaya, tidak keren, dan membosankan.

Saking enggannya menjadi guru, dia akhirnya memutuskan bakal memilih kuliah di Hubungan Internasional. Namun, lagi-lagi sang ayah menuntunnya untuk memilih Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Sang ayah memang berharap besar Dedy meneruskan jejaknya mengabdi sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

“Saking tidak maunya saya jadi guru, saya pilih FKIP Bahasa Inggris saja biar tidak diterima. Hitung-hitung biar tidak jauh dari Hubungan Internasioanal yang saya ingini sebelumnya,” tukasnya.

Kisah berlanjut. Pada pagi pengumuman tes perguruan tinggi, temannya datang membawa kabar sekaligus mimpi buruk untuk Dedy. Ternyata diadinyatakan lolos tes dan diterima  sebagai mahasiswa FKIP Bahasa Inggris Unmul. Berbeda dengan pendaftar lain yang mengembuskan napas lega, Dedy justru memilih jalan seleksi berikutnya agar bisa diterima sebagai mahasiswa Hubungan Internasional.

Mengejutkan, Dedy lolos. Akhirnya dia memiliki pilihan untuk berkuliah di dua program studi fakultas berbeda. Sekalipun merestui, lolosnya Dedy masih ditentang oleh sang ayah dan dianggap remeh perihal kemampuannya berbahasa Inggris.

“Alhamdulillah saya diterima. Saya bilang, masuk HI bisa pergi ke luar negeri. Lalu ayah saya bilang, bahasa Inggrismu saja belepotan,” kisahnya.

Diremehkan, tak serta merta menjadikan Dedy patah arang. Situasi itu justru menjadikannya semakin bersemangat untuk membuktikan kemampuannya. Puncaknya, dia bertekad menjadi guru Bahasa Inggris. 

Saat ini, Dedy mengaku menikmati pekerjaannya sebagai dosen. Pekerjaan yang bermula dari hanya sekadar ajang pembuktian, mengantarkan Dedy menjadi seperti sekarang. Ke depan, dia berharap bisa melanjutkan studi S3. Impiannya, ingin membuka sekolah atau tempat pendidikan yang tidak mainstream, yang mengajarkan siswanya untuk tidak hanya berpikir kritis, tapi juka kreatif.

“Saya merasa lebih berguna. Pekerjaan ini banyak menuai pahala sekaligus nilai amal yang tak akan ada habis-habisnya.”(bru/aml)




Kolom Komentar

Share this article