logo logo

Suara Kritis & Edukatif Mahasiswa

Universitas Mulawarman

Kontak Redaksi LPM SKETSA

Call: +6285159630227

sketsaunmul@gmail.com
Resensi

Dunia Paralel Evelyn Wang dalam Everything Everywhere All at Once

Film berkonsep multisemesta yang bertemakan keluarga dan kultur.

Sumber Gambar: everythingeverywheremovie.com

SKETSA- Apakah kamu meyakini bahwa dunia paralel itu benar adanya? Dewasa ini, konsep dunia paralel atau multisemesta semakin diyakini oleh banyak orang. Mereka percaya bahwa semesta tak hanya sebatas pada semesta tempat kita berada saat ini. Lantas, bagaimana jika hal tersebut memang benar?

Tahun ini, konsep multisemesta dalam film tak hanya disuguhkan dalam Doctor Strange: in the Multiverse of Madness saja yang lebih dahulu hadir ke layar lebar. Daniel Kwan dan Daniel Scheinert, atau yang lebih akrab disapa The Daniels ini rupanya juga mengusung konsep serupa, namun dengan jalan cerita yang tentunya berbeda. Everything Everywhere All at Once resmi rilis di bioskop Indonesia pada Rabu (22/6) lalu.

Film ini bercerita soal Evelyn Wang (diperankan oleh Michelle Yeoh), seorang perempuan Cina-Amerika yang tengah diterpa banyak masalah; mulai dari masalah soal rumah tangganya yang sudah di ujung tanduk, bisnis laundry yang mulai goyah. Ditambah lagi dengan anaknya, Joy (diperankan oleh Stephanie Hsu), yang membuatnya semakin sakit kepala lantaran terang-terangan mengaku sedang berkencan dengan sesama jenis. Tak berhenti sampai di situ, dirinya yang turut dikejar oleh tenggat waktu untuk menyelesaikan laporan pajak membuat kehidupannya semakin ruwet.

Di tengah rentetan kejadian yang membuat kepala jadi pening, secara tiba-tiba, suaminya, Waymond, (diperankan oleh Ke Huy Quan) mengaku bahwa ia datang dari semesta lain bernama Alphaverse. Maksud kedatangannya pun semakin membuat kepala Evelyn pusing. Pasalnya, Waymond mengatakan bahwa Evelyn-lah yang mampu menyelamatkan keberlangsungan hidup di setiap semesta yang ada dari ancaman makhluk jahat bernama Jobu Tupaki.

Everything Everywhere All at Once menyuguhkan petualangan menjelajah multisemesta yang seru dan kocak. Ketika terlempar ke semesta lain, Evelyn semakin dibuat bingung dengan kehidupan yang sangat berbeda dari semesta tempat ia berasal. Misalnya ketika ia melihat semesta di mana semua orang memiliki jari yang panjang seperti sosis, atau semesta di mana ia menjadi aktris yang pandai melakukan beladiri Kung Fu.

Yang lebih kocak lagi, ketika ingin berpindah ke semesta lain, ia harus melakukan hal yang aneh dan tak lazim seperti memasukan lalat ke dalam hidung sampai dengan mematahkan jarinya. Selain itu, Evelyn juga bisa mengunduh kemampuan yang dimiliki versi lain dari dirinya di semesta lain untuk berkelahi. Ketika melihat adegan ini, aku langsung teringat pada film The Matrix (1999) ketika Neo, tokoh utama dalam film tersebut, juga melakukan hal serupa.

Bukan sekadar film fantasi 

Everything Everywhere All at Once bukan sekadar film tentang fantasi belaka, sebab The Daniels turut mengemas isu soal keluarga, kultur, hingga masalah rumah tangga. Seluruh elemen tersebut berhasil dipadukan dengan apik ke dalam sebuah film fantasi dan science-fiction dengan konsep multisemesta sebagai pondasinya. Itulah yang membuat film ini menjadi unik dan jenius. Seiring berjalannya film, konflik yang tertuang dalam Everything Everywhere All at Once ini akan terlihat begitu kompleks.

Ketika terlempar ke semesta lain, Evelyn turut mengeksplorasi kejadian dan probabilitas yang terjadi dalam kehidupan alternatifnya. Bagaimana jika ia tidak menikah dengan Waymond? Bagaimana jika ayahnya tidak membiarkan Evelyn pergi ke Amerika? Semua kejadian tersebut nyatanya malah membuka pikiran Evelyn untuk memahami dirinya sendiri.

Konflik antara anak dan orang tua serta arti kehidupan yang nihil

Di tengah hiruk-pikuk dan permasalahan hidup yang berkecamuk, Evelyn harus menjadi ibu serta anak yang baik: ia harus mencoba mengerti keadaan putrinya—namun di sisi lain, ia adalah seorang anak yang ingin pula membanggakan ayahnya. Hidup di tengah banyak tuntutan tentunya tak semudah itu untuk dijalani. 

Serupa dengan Evelyn, Joy juga tak bisa semudah itu pula menjalani kehidupan jika ibunya kerap menuntut dirinya untuk melakukan ini itu. Lagipula siapa yang ingin kehidupannya selalu diatur orang lain? Meskipun secara teknis, Joy berasal dari keluarga Asia yang menjunjung tinggi adat istiadat, perlu diingat bahwa ia besar di lingkungan dengan budaya yang berbeda. Kultur Amerika yang seratus persen berbeda turut mempengaruhi pola pikir serta jati dirinya. Bagaimanapun juga, Joy ingin jadi dirinya sendiri, tanpa tuntutan dari orang tuanya.

Lagi-lagi, ini semua soal masalah tentang anak dan orang tua yang tak bisa mengerti satu sama lain. Ekspektasi dan tuntutan orang tua inilah yang membuat Joy bertransformasi menjadi Jobu Tupaki—villain dalam film ini—yang kemudian sibuk ‘mengacak-acak’ semesta. Hal ini semata-mata dilakukan sebab ia muak hidup dalam kekangan orang tua.

Everything Everywhere All at Once turut menyinggung soal arti kehidupan dan eksistensi manusia. Joy berhasil merenggut kemampuan dan wawasan dari tiap semesta yang ia sambangi hingga membuat dirinya menjadi kuat. Namun, ia tersadar bahwa saking tak terbatasnya semesta ini membuat segalanya jadi nihil, dan tak berarti. Pada akhirnya, niat jahatnya itu bukan ditujukan pada siapapun, apalagi pada Evelyn, melainkan untuknya—ia ingin menghancurkan dirinya sendiri.

Segala konflik yang terjadi adalah akibat dari mereka yang saling terbutakan dengan egoisme. Tetapi, sebagai seorang ibu, Evelyn harus mengambil keputusan dengan bijak dan mengesampingkan egonya, meskipun pilihan dan prinsip kedua karakter itu saling bertentangan. Sebab, sejatinya seorang ibu tidak ingin ‘kehilangan’ anaknya. Demi merekatkan kembali hubungan yang telah renggang, ia harus merelakan putri semata wayangnya itu untuk memilih jalan hidupnya sendiri.

Petualangan lintas semesta inilah yang akhirnya membawa Evelyn untuk kembali menemukan cinta kepada keluarganya, saling memahami satu sama lain, serta kembali membawa dirinya pergi dari krisis eksistensi yang sempat mampir dalam dirinya.

Terakhir, aku ingin berterima kasih kepada The Daniels yang berhasil membayar ekspektasi tinggiku dengan eksekusi yang luar biasa. Everything Everywhere All at Once adalah film fantasi yang dikemas dengan kreatif dan unik. (dre/khn)



Kolom Komentar

Share this article