Opini

Bukan Cari Muka, “Hanya” Pers Mahasiswa

Sebagai lembaga independen, Persma mendapat sorotan dan berbagai penilaian. Raden Roro Mira Budiasih, Ketua Umum LPM Sketsa 2016 menuliskan pendapatnya dalam opini. ( Ilustrasi : http://www.cakrawalaide.com/karena-dengan-cara-mengkritik-kampus/)

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


BELAKANGAN terakhir, timeline Anda yang secara sengaja pun tidak mengikuti sosial media LPM Sketsa Unmul diramaikan pemberitaan menyoal Pemira 2016. Tradisi kemahasiswaan yang digelar tiap tahun tersebut mungkin sudah hambar? Euforianya, maaf saya berlebihan menggunakan kata euforia, mari kita ganti dengan kata proses saja. Oke, prosesnya mungkin kurang greget dibanding Pemira yang sudah-sudah.

Sebelum demisioner pada 29 Oktober lalu, sempat saya menulis soal keputusan LPM Sketsa mengawal jalannya Pemira 2016 yang diposting pada 30 September. Hal ini penting mengingat LPM Sketsa sebagai media kampus tingkat universitas perlu melakukan hal tersebut, mengawal independensi agar lahir pemimpin substansi. Positifnya, kami tentu ingin masyarakat Unmul tidak buta akan politik kampus. Bermaksud agar masyarakat Unmul berpartisipasi penuh? Jelas!

Seiring pemberitaan mulai proses pendaftaran bakal calon, hingga dilantiknya presiden dan wakil presiden terpilih pada 5 November lalu terus dihadirkan. Lalu, apa yang ingin saya sampaikan pada tulisan kali ini? Sesuai judulnya, saya ingin menyampaikan pandangan terhadap 'keresahan’ Anda mengenai pemberitaan pers mahasiswa (persma) selama Pemira kemarin.

Tidak mungkin tidak ada saja yang bercuit jika LPM Sketsa adalah media pencari sensasi. Sedang lainnya? Ada yang bilang LPM Sketsa ingin cepat tenar. Di satu sisi, ada yang bilang tukang gosip. Tidak salah komentar-komentar itu, semua punya hak menyampaikan pendapatnya. Termasuk saya, juga punya hak menjawab komentar tersebut lewat tulisan tak seberapa ini.

Ini bukan tulisan bawa perasaan atau akrab disebut baper. Bukan juga bentuk protes saya secara pribadi. Ini hak saya, bukan? Semua bebas berpendapat. Termasuk Anda jika ada yang merasa tersinggung, sila mengirimkan tulisannya.

Mari masuk pada intinya. Media yang dikenal selama ini adalah media pencari muka. Apalagi yang berbasis online, terkadang banyak isi berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Mengutamakan cepat tersebar dibanding apakah isinya benar?

Konsep media yang Anda pegang adalah media secara umum. Televisi yang Anda saksikan, radio yang didengarkan, atau barisan kalimat yang Anda pegang wujudnya seperti koran. Persamaan media tersebut adalah profit. Iya. Keuntungan.

Menurut kacamata saya yang tidak seberapa belajar tentang media selama menempuh studi di Ilmu Komunikasi sejak 2013 lalu, media yang bergerak mencari profit memang seringkali membuat berita dengan judul mendebarkan. Alih-alih ada isi yang dipelintir agar pembaca ikut ketar-ketir.

Apa fungsinya? Apalagi jika bukan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Lho mengapa? Apa hubungannya judul dan berita heboh bisa mendatangkan rupiah lebih ke kantong perusahaan media tersebut?

Begini. Semakin banyak Anda membaca dan mengikuti berita dari media tersebut, maka posisi tim iklan dan pemasaran semakin kuat. Mengambil celah dengan hausnya informasi terhadap isu yang Anda ikuti. Judul itu penting sekali agar pembaca melirik produk perusahaan media tersebut.

Apalagi ada kepentingan yang memang mudah, eh, sangat mudah sekali menyusup ke media. Si empunya kepentingan tentu punya nominal rupiah yang menggiurkan agar perusahaan media menjadi hijau matanya. Hmm, saya bukan memberi gambaran betapa buruknya media saat ini, hanya memberi gambaran bahwa memang benar seperti itu adanya. Walau tak menyeluruh tentunya.

Nah, LPM dalam hal ini persma tentu tidak sama. Tujuan utama Persma bukan keuntungan dalam bentuk materi. Hadirnya adalah sebagai corong pergerakan kampus. Menyoroti tanpa maksud menghakimi. Memberitakan tanpa maksud memalukan.

Saya meyakini bahwa jurnalistik itu bukan kebenaran. Toh faktanya memang begitu. Jangan berasumsi bahwa media harus menyajikan kebenaran murni dan pasti. Apapun yang tersebar harus info benar adanya. Terlalu egois. Jangan berkukuh dengan asumsi itu. Sebab, akan semakin merugikan Anda.

Jurnalistik adalah proses. Itu faktanya, begitu teorinya, maka pahami maksudnya. Itu mengapa, Anda mudah terpancing pada berita-berita yang beredar. Sebab Anda sudah meyakini bahwa jurnalistik itu harus kebenaran yang disampaikan. Maka menjadi berang ketika bukan kebenaran yang didapatkan. Salah siapa?

Memang, nyatanya tidak ada undang-undang yang melindungi pekerja media macam Persma. Sejauh ini juga belum ada Persma yang digugat secara hukum, paling masalahnya terkait independensi. Tidak ada maksud tertentu yang dibawa, dalam hal ini saya berbicara tentang LPM Sketsa.

Bukan cari muka, tidak adu domba, apalagi menambah pengikut pada akun sosial media sebanyak-banyaknya. Pertaruhannya adalah nama mahasiswa yang mengikuti di belakang kata pers. Maka, Persma memberitakan juga dengan idealis sebagai mahasiswa.

Pertanyaan lain, mengapa harus berita 'seperti itu' yang disebarkan? Memancing kegaduhan dan menggunakan versi siapa berita 'seperti itu' penting disebarkan. Versi Persma secara melembaga atau oknum di dalamnya? Nah, ini yang menarik.

Penting bagi awak Persma untuk bersikap idealis. Jika kata Andreas Harsono, wartawan senior yang menulis buku “A9ama Saya Adalah Jurnalisme”, pekerja media itu ibarat berdiri dengan kaki kanan di surga dan kaki kiri di neraka. Agama atau apapun itu yang berpengaruh besar terhadap keyakinan, jangan dibawa-bawa saat mulai menggunakan pena sebagai senjata.

Ada yang bilang harus sesuai aturan. Lantas, aturan itu lagi-lagi versi siapa? Setiap orang dan lembaga punya aturan masing-masing. Tentu aturan itu dipegang sebagai yang paling benar versi masing-masing. Menurut kita tidak, tapi menurut mereka benar. Bisa apa? Namanya juga aturan.

Paling aman, layaknya pekerja media pada umumnya, Persma juga tunduk pada kode etik jurnalistik. Hanya sebelas pasal memang, namun penafsirannya cukup jelas dan mengikat siapapun yang menyebut dirinya wartawan atau kuli tinta, termasuk persma.

Intinya, pandanglah Pers Mahasiswa sebagai upaya perbaikan menuju hal yang tentu juga baik. Sungguh, tidak ada maksud lain, ini saya berbicara membawa nama pribadi. Walau nyatanya, idealisme yang mati-matian dipegang Persma akan luntur saat mengarungi dunia pers sesungguhnya di luar sana. Ketika tidak lagi menyandang status mahasiswa.

Analoginya sama saja, seperti mereka yang mengaku memihak rakyat kecil saat menjadi aktivis tapi ujung-ujungnya kerja untuk kaum kapitalis? Idealisme menyusut karena urusan perut. Idealisme pergi karena urusan sesuap nasi. Idealisme bukan lagi kepentingan karena jabatan. Miris, bukan?

Untuk saat ini, sederhananya marilah sama-sama menyebar kebaikan dan manfaat. Sesuai tagline LPM Sketsa yakni “Semangat Berbagi dan Menginspirasi”. Wujudkan pemberitaan kampus yang idealis dan dinamis.

Raden Roro Mira Budiasih

Ketua Umum LPM Sketsa 2016



Kolom Komentar

Share this article