Cerpen

Bagian Terakhir: Pembeliant

Kisah penutup pusaka Pembeliant

avatar
Sketsa Unmul

sketsaunmul@gmail.com


Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Aku menarik napas panjang dan mengusap pipiku. Ketika menoleh ke balik bahu, Jenderal sedang bersiap menggunakan pusaka itu. Kehadiranku tidak diakui oleh mereka.

“Hati-hati, Jenderal,” Bosch terdengar khawatir.

Sang Jenderal menancapkan pusaka itu, meniru gerakan Cornelius. Ia memeganginya dan menutup mata. Detik berlalu, Jenderal perlahan membuka matanya dan bersiap menyaksikan keajaiban. Namun, tak terjadi apapun. Bosch dan para serdadu nampaknya menunggu keajaiban itu pula.

“Maaf, Jenderal. Kau mungkin harus mengucapkan keinginanmu dengan lantang,” Bosch menjelaskan.

Jenderal menutup matanya lagi, mengangkat pusaka itu, dan menancapkannya. Perkataan yang akan keluar dari mulutnya mengejutkanku, apalagi para serdadu.

“AKU MENGHENDAKI SELURUH INLANDER TUNDUK PADAKU!” Teriaknya.

Sesaat kemudian, terjadi gempa yang luar biasa. Sang Jenderal kehilangan keseimbangan dan harus berpegangan pada pusaka yang tertancap itu.

“Jenderal, apa yang telah kau lakukan? Bagaimana dengan saudara-saudara kita yang terkena kolera?” Bosch terkejut dengan permintaan Jenderal.

“Oh, Bosch. Kau begitu naif. Akan ada wabah dan penyakit lain yang berdatangan bahkan setelah kolera musnah. Walaupun aku menyelamatkan mereka dari kolera, mereka akan tetap mati karena hal lain. Pikirkan ini, Bosch. Dengan tunduknya para inlander, kemenangan akan jadi milik kita. MILIK BELANDA. KITA AKAN SEGERA PENSIUN, BOSCH!” Sang Jenderal terdengar lebih gila dari dugaanku.

Bosch menyadari ketidakwarasan Jenderalnya, tetapi tidak mengatakan apapun. Di saat tanah di kaki kami masih bergetar hebat, Sungai Mahakam mendadak terbelah dua tepat di lokasi pusaka itu terbenam. Kemudian, kami beradu pandang dengan sosok berkepala kerbau dan berpakaian serba hitam di dasar sungai itu. Aku menduga ia adalah Nyeluh (hantu). Gempa mendadak berhenti, tetapi sungai masih terbelah. Berbeda dengan Jenderal, Bosch dan para serdadu tampak gelisah dengan sosok tersebut. Sosok itu melayang menghampiri mereka.

“AKU PERINTAH KAU UNTUK MENGHABISI INLANDER ITU,” Jenderal memerintah Nyeluh seraya menunjukku.

Nyeluh menatapku, mengangkat, dan mengepalkan tangannya. Dalam sekejap, leher para serdadu patah seketika. Darah membasahi seragam mereka semua. Aku dan Jenderal sama-sama terkejut. Dengan cepat, para serdadu menembak sosok Nyeluh yang ternyata adalah lawan tersebut. Sayangnya, peluru tidak mampu menembus kulitnya. Di sisi lain, Jenderal telah bersembunyi entah dimana.

Bosch hendak kabur, tetapi Nyeluh menghadangnya. Ketika hendak dihabisi oleh Nyeluh, Bosch berhasil diselamatkan oleh Panglima. Aku bahkan tidak menyadari kedatangan Panglima. Bosch terjatuh. Nyeluh mengalihkan pukulannya ke arah Panglima, menghempas Panglima hingga berpuluh meter. Aku baru menyaksikan kejadian langka. PANGLIMA BARU SAJA MENYELAMATKAN BOSCH. PANGLIMA BARU SAJA MENYELAMATKAN SERDADU VOC.  

Serangan Nyeluh terhadap Panglima membingungkanku. Sosok tersebut tidak memihak Jenderal ataupun Panglima. Berarti, Nyeluh merupakan ancaman bagi kami semua. Aku menduga Jenderal salah menggunakan pusaka itu. Aku lalu menyusun rencana. Nyeluh kembali berhadapan dengan Panglima. Bosch memerintahkan para serdadu untuk membantu Panglima. Aku bergegas menghampiri Jenderal.

“Berikan pusaka itu, Jenderal. Aku bisa memperbaiki semua ini,” perintahku.

Wajah Jenderal memerah, “BERANI-BERANINYA KAU MEMERINTAHKU, INLANDER! KAU HARUS MELANGKAHI MAYATKU SEBELUM MENDAPATKAN TONGKAT INI! AKU AKAN MENCARI RIBUAN CARA UNTU…”

“TUTUP MULUT GILAMU, JENDERAL!” Bosch memukul wajah atasannya.

Jenderal pingsan sebelum menyelesaikan kalimatnya. Lalu, Bosch menyerahkan pusaka itu padaku.

“Ini. Ambillah. Hentikan apapun makhluk itu,” Bosch terengah-engah dan berbaring menemani Jenderal yang pingsan.

Aku mengangguk dan mengambil pusaka itu. Panglima nampak tersungkur. Sedangkan Nyeluh sedang menumpas para serdadu. Aku menghampiri Panglima yang terluka parah. Untuk pertama kalinya aku melihat seorang Panglima terluka seperti ini.

“Apa yang telah kau perbuat dengan pusaka itu, Taman? Mandau-ku bahkan tidak mampu menembus kulit mahluk itu,” Panglima mengusap darah pada keningnya.

“Ini semua perbuatan Jenderal, Nanjan. Tapi, jangan khawatir, aku tahu cara mengalahkan makhluk itu,” aku menyembuhkan Panglima dengan Pusaka Pembeliant. Luka di tubuhnya tertutup kembali. Matanya yang babak belur kembali menyusut. Selain itu, aku juga memberi Panglima tambahan kekuatan. Tidak banyak. Namun, cukup untuk melawan Nyeluh.

“Tidak bisakah kau gunakan Pusaka itu untuk melawannya?” Tanya Panglima.

“Aku tidak bisa mengambil resiko dan mengulangi kesalahan Jenderal. Entah mahluk apa saja yang dapat didatangkan oleh Pusaka ini, tapi aku tidak ingin mencari tahu sekarang,” jelasku.

Aku menyampaikan rencanaku, “kau siap untuk putaran kedua? Alihkanlah Nyeluh agar aku dapat mengobati para serdadu yang terluka. Setelah itu, tunggu aba-abaku, lalu terbangkan kita pulang. Jika sosok Nyeluh itu tangguh terhadap segala macam serangan dari luar, mungkin kita dapat mengalahkannya dari dalam.” aku berharap rencana ini berhasil.

“Sosok ini akan mengikuti kemanapun kita pergi, Taman. Jika Nyeluh sampai mengikuti kita pulang, Sanja akan berada dalam bahaya,” Panglima ragu.

“Percayalah padaku. Aku punya rencana,” aku tidak menjelaskan lebih jauh.

“Tunggu, bagaimana dengan Cornelius? Dimana dia?” tanya Panglima.

Aku meminta maaf kepada Panglima. Untungnya, ia paham maksudku dan melampiaskan rasa dukanya dengan menyerang Nyeluh untuk putaran kedua.  

Aku menyembuhkan para serdadu dan memerintahkan Bosch untuk membawa mereka melarikan diri. Sang Jenderal yang masih pingsan, dipikul dua serdadu dan telah hilang ditelan hutan. Sebelum memasuki hutan, Bosch melihat ke arahku, tetapi tidak mengatakan apapun. Wajahnya menggambarkan bahwa kami akan bertemu lagi. Pada kesempatan lain. Ia kemudian hilang ditelan hutan, menyusul serdadu lain.

“Sekarang, Nanjan!” perintahku pada Panglima.

Panglima meninggalkan Nyeluh dan bergegas menerbangkan kami pulang.

Aku belum pernah berada di ketinggian seperti ini. Lebih tepatnya, aku belum pernah terbang setinggi ini. Tepat jauh di belakang, Nyeluh terbang mengikuti kami. Setibanya kami di perkemahan, aku bergegas menghampiri Sanja, memeriksa nadinya seperti yang diajarkan Cornelius. Masih ada. Aku memejamkan mata dan berharap Pusaka Pembeliant mengabulkan permintaanku. Pusaka itu mengeluarkan cahaya biru, diikuti Sanja yang terbangun. Aku tersenyum dan memeluknya.

Hembusan angin kencang diikuti hujan deras terasa dari luar. Nyeluh telah sampai. Angin kencang ini. Hujan deras ini. Gemuruh ini. Aku tersadar, Nyeluh tidak ingin mengalahkanku dan Panglima. NYELUH INGIN MENGHAPUS EKSISTENSI KAMI SEMUA DENGAN MENDATANGKAN BANJIR BANDANG. Terdengar teriakan histeris penduduk, aku meminta Sanja bersembunyi dan berjanji akan menjelaskan segalanya nanti. Setibanya di luar, aku melihat Nyeluh dan Panglima melayang beberapa meter di atas kami, bersiap untuk putaran ketiga.

“APA KAU SIAP DENGAN RENCANA KITA SELANJUTNYA?” Teriakanku pada Panglima.

“APA AKU PUNYA PILIHAN LAIN?” Panglima melihatku dari atas sana.

“BERIKAN AKU SUMPITMU DAN TUNGGU ARAHANKU,” aku mendapat Sumpitnya dan bergegas menuju kemah Cornelius, meninggalkan Panglima yang bertarung dengan Nyeluh.  

Ketika membuat ramuan untuk menyembuhkan Sanja, Cornelius menggunakan intisari buah Tarap, buah langka yang terkenal hampir membunuh Sanja. Aku mencampurkan intisari buah itu ke dalam peluru Sumpit Panglima agar lebih cepat bereaksi. Semoga ini berhasil. Racun ini lebih berbahaya ketika terkontaminasi langsung melalui aliran darah.

“Terima kasih, Cornelius,” kataku dalam hati sebelum bergegas ke luar.

Aku menyaksikan Panglima masih melakukan tugasnya. Melindungi penduduk. Ia Nyeluh telah berhenti melayang, tetapi masih beradu di bawah derasnya hujan. Dari kejauhan nampak banjir telah menutupi beberapa titik.

“NANJAN, SEKARANG!” Perintahku pada Panglima, Nyeluh teralihkan.

Panglima melompat ke punggung Nyeluh dan membuka mulut mahluk itu. Aku meniup Sumpitnya, berharap mengenai sasaran. Pelurunya tertancap tepat di langit-langit mulut mahluk itu. Panglima menutup paksa mulut kerbau itu, dan turun dari punggungnya. Nyeluh memegangi perutnya dan tersungkur dengan kedua lututnya. Kami menang. Panglima tersenyum ke arahku. Namun, terjadi hal yang di luar perkiraan kami. Nyeluh bangkit kembali.

“AYAH!” Sanjan melemparkan sisa Buah Tarap padaku.

Aku menangkapnya, berlari ke arah Nyeluh. Panglima menyadari rencanaku, ia membuka paksa mulut Nyeluh untuk terakhir kalinya. Aku memasukan buah itu, kemudian memerasnya guna mempercepat reaksi. Makhluk itu tersungkur memegangi perutnya sebelum akhirnya hilang tersapu air hujan. Kami menang. Benar-benar menang kali ini. Hujan berhenti, diikuti surutnya banjir. Matahari sore menyambut kami.  

Tanpa kusadari, Panglima telah pergi membantu para penduduk seolah tidak terjadi apapun. Melawan mahluk seperti Nyeluh tidaklah asing baginya. Sementara Sanja menghampiri, duduk bersamaku, dan menyaksikan matahari terbenam.

“Sanja. Kau ingin pergi memancing?” aku menatapnya.

Sanja tersenyum mengiyakan. Kami beranjak dan berjalan menuju Sungai. Matahari menyinari punggung kami.

“Akan sulit mendapat ikan, yah. Ikan-ikan sudah tidur,” Sanja mengejekku.

Sebulan setelah kejadian itu, aku semakin mahir menggunakan pusaka Pembeliant. Panglima dan aku turut mengambil alih ladang palawija di balik bukit. Tak lupa, kami juga memberikan pemakaman yang layak untuk Cornelius. Sanja semakin mahir menggunakan Sumpit. Terakhir, untuk kesekian kalinya, kami telah meninggalkan perkemahan kami dan pindah ke tempat yang lebih aman.

Tamat.

P.S. Cerita pendek ini didedikasikan untuk mendiang ayahanda penulis, seorang ayah yang hebat dan panutan yang luar biasa. Semoga kenangan beliau dapat menjadi sumber kekuatan dan inspirasi.

Cerpen ditulis oleh F. Sandro Asshary, alumni FIB 2018.



Kolom Komentar

Share this article