logo logo

Suara Kritis & Edukatif Mahasiswa

Universitas Mulawarman

Kontak Redaksi LPM SKETSA

Call: +6285159630227

sketsaunmul@gmail.com
Lifestyle

Echo Chamber Effect: Enggannya Seseorang Melihat Perspektif yang Lain

Fenomena Echo Chamber di era media baru.

Sumber Gambar: Pexels

SKETSA - Ketika tengah mengakses media sosial, seberapa sering kamu menemukan konten yang sesuai dengan pandanganmu sendiri? Intensitas keadaan seseorang lebih sering memperoleh informasi yang selaras, dibanding informasi yang berlawanan dengan diri ini bisa disebut Echo Chamber.  Itu biasanya terjadi akibat algoritma yang diatur, dengan menampilkan informasi yang relevan: sering diakses dan disukai pengguna media sosial bersangkutan.

Hasilnya informasi yang sesuai kebutuhan itu akan memperkuat pandangan dalam diri seseorang. Sayangnya, keadaan tersebut tak selamanya baik. Bahkan membuat seseorang terjebak ke dalam informasi yang keliru, hingga berpotensi pada enggannya seseorang menerima sudut pandang yang berlawanan dengannya.

Johantan Alfando selaku dosen Ilmu Komunikasi menyebut Echo Chamber atau Echo Chamber Effect banyak terjadi di media sosial. Ini juga termasuk fenomena yang tak bisa dihindari atau dikontrol, sebab adanya kebebasan berpendapat di era new media.

Mengutip pendapat ahli, menurutnya kebebasan berpendapat sendiri merupakan hal yang baik untuk menumbuhkan perspektif pemikiran kritis. Lalu mampu meningkatkan proses musyawarah publik dalam demokrasi yang lebih terbuka, hingga  mampu melahirkan wawasan-wawasan baru.

"Tetapi yang  terjadi fenomena saat ini malah sebaliknya, malah menjadi sekat-sekat, malah jadi mengkotak-kotakkan pemikiran-pemikiran yang sama, tanpa ada proses musyawarah yang menghargai pendapat dua pandangan. Hingga menganggap pandangan dia yang paling benar," ungkapnya pada Selasa (31/5) lalu.

Johantan melihat, Echo Chamber telah ada bahkan sebelum adanya new media. Internet berperan memperbesar ruang lingkup kehidupan menjadi lebih luas lagi, kemudian ditunjang algoritma yang ada. Menjadikan kelompok-kelompok kecil menjadi lebih besar, karena hilangnya batas antar-wilayah pada era globalisasi kini.

Baginya masyarakat punya PR baru, yakni kemampuan menyaring informasi yang ada di media. Serta melakukan filtrasi informasi yang diikuti saat bermedia sosial. Hal itu agar menumbuhkan budaya berpikir kritis dalam menyikapi fenomena saat ini.

Kemampuan ini juga menjadikan seseorang tidak mudah terpengaruh dengan kelompok-kelompok yang sepemikiran atau bahkan berbeda pemikiran. Pasalnya seseorang jadi mampu melihat kasus yang ia temui dari  berbagai sudut pandang. Adapun, sebut Johantan, perbedaan itu seharusnya mampu menjadi wawasan baru dan melahirkan pemikiran segar tanpa tendensi mengelu-elukan atau menyudutkan.

“Jika perspektif itu positif ya enggak apa-apa, kita dengarkan saja. Misalnya perspektif itu negatif tidak perlu dianggap. Sesimpel itu sebenarnya. Jadi, saran saya kembali lagi terhadap masyarakat itu sendiri."

Selain itu literasi digital tak dimungkiri bisa menjadi upaya sebab dapat berperan penting dalam menumbuhkan kesadaran berinternet. Utamanya dalam menimbulkan kebijaksanaan.

"Kalau bisa ya harus bisa menumbuhkan (kesadaran) terkait (pentingnya) literasi dgital di tengah masyarakat," kuncinya. (kya/ems/khn)



Kolom Komentar

Share this article